Sembilan Siswa Putus Sekolah Selama Pandemi Covid

Ilustrasi anak putus sekolah

LINTAS BLORA, TODANAN – Sejumlah Siswa di Kabupaten Blora, Jawa tengah dilaporkan putus sekolah selama pandemi Covid -19. Di SMPN 1 Todanan, Sebanyak 9 siswa memilih berhenti sekolah dengan berbagai faktor.

Salah satu guru setempat, Yeni Kurniawati mengungkapkan, sejumlah faktor siswa berhenti sekolah diantaranya menikah, merantau, pindah sekolah hingga ikut anak punk.

Bacaan Lainnya

“Untuk yang kelas 8, yang dua orang itu kabar-kabarnya ikut punk, jadi dia itu jarang pulang ke rumah, kami juga sudah ke rumahnya, ada satu yang tidak ikut orang tua, mungkin orang tuanya merantau entah ke mana, dan dilaporkan oleh teman-temannya ikut punk, ‘sering ikut bis-bis, truk-truk pakai pakaian punk’,” katanya, Selasa (30/3).

Ada Sembilan Siswa

Yeni merinci kesembilan siswa tersebut terdiri kelas 7 ada dua orang, kelas 8 ada lima orang dan kelas 9 ada 2 orang. Dengan rincian 5 siswi dan 4 siswa.

“Untuk kelas 9, yang putus sekolah ada dua orang, yang satu menikah, yang satunya merantau ke Jakarta. Untuk peserta didik kelas 8, tiga siswi disekolahkan oleh orang tuanya ke pondok pesantren. Sementara untuk kelas 7, seorang siswa memilih ikut pindah orang tuanya ke suatu tempat. Dan satunya lagi memang sudah tidak berkeinginan untuk melanjutkan sekolah,” terangnya.

Yeni mengungkapkan pihaknya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah anak didiknya agar tidak putus sekolah. Sebab data mereka sudah dimasukkan ke Dapodik (Data Pokok Pendidikan).

“Namun, berhubung usahanya tidak membuahkan hasil, maka pihaknya memanggil wali murid untuk menandatangani surat pernyataan menarik peserta didik dari sekolah. Sehingga data mereka dikeluarkan dari dapodik sesuai dengan pernyataan hitam di atas putih,” jelasnya.

Selama Pandemi Covid

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Endang Rukmiati mengaku potensi terjadinya anak putus sekolah cukup tinggi di masa pandemi Covid- 19 ini. Namun sejauh ini pihaknya belum menerima laporan jumlah siswa yang memilih berhenti sekolah selama pandemi Covid -19.

“Memang ancaman tidak ada PTM (Pembelajaran tatap muka) salah satunya angka putus sekolah itu tinggi, sesesi generasi, KDRT kan termasuk itu. Tapi kalau di Blora berapa, belum ada laporan,” ucapnya.

Pihaknya pun meminta pihak sekolah untuk terus melakukan pemantauan terhadap anak didiknya.

“Pemantauan tetap kami tekankan kepada kepala sekolah, guru dan orang tua. Agar tetap mengawasi anak didiknya selama di rumah,” tandasnya.(af)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.